Hikarinu's Blog











{Juni 28, 2010}  

Aku masih terjaga..
Masih dengan bayang-bayangmu..
Yang aku tahu, kini tak lagi bersahabat..
Setiap tuturmu mampu membuatku diam..
Aku tak mengerti, apakah ku telah terjebak perasaan..

Aku masih terjaga..
Menyadari apa yang ku lakukan..
Entah apa yang membuatku kembali buta..
Yang ku fikirkan selalu salah di matamu..
Yang ku maksud selalu berbeda dan tak sama..

Aku masih terjaga..
Merasa lelah..
Ku kembali dengan dirimu..
Yang sama seperti masa lalu ku..
Ku ingin lupakan semua..
Tapi kau biarkan dirimu menjadi cerminan dirinya..
Dan semuanya sama..
Aku tetap diam dan menyayangimu…



{Juni 8, 2010}   “ Cinta Mampu Merubah “

Aku mencintai seseorang. Ia baik, pehatian dan sangat agamis, namun ia terlalu egois dan sangat Possesif. Awalnya aku hanya menghargai perasaannya padaku, hingga aku tak bisa lepas dengan semua ikatan cintanya. Mungkin terlihat berlebihan bila kita bicara tentang cinta. Tapi saat itu aku benar-benar merasakan tak ingin kehilangan. Aku melakukan apa saja yang bisa buat ia simpati padaku. Aku melakukan apa yang ia minta, yang ia inginkan. Yang pasti, aku sangat tidak ingin membuatnya kecewa.
Saat itu aku benar-benar telah di butakan dengan cinta. Kata-katanya yang manis dan penuh kepastian membuatku lemah. Membuat aku berubah. Ia merubahku menjadi seseorang yang tidak buruk. Tapi, aku melakukan karena ia, hanya untuk dia. Dan hingga kini aku sadar itu bukan perubahan yang baik. aku sama seperti orang yang munafik.
Ia benar-benar terbuka dengan segala hal padaku, semua yang ia rasakan selalu ia ceritakan. Ia selalu berjanji bahwa akulah satu-satunya, hanya untuknya. 1 point lagi yang membuatku lemah. Ia selalu memintaku untuk tidak dekat dengan laki-laki lain_ia mengekangku_ dan itu pun aku lakukan. Hanya untuk dia. AKU TIDAK INGIN MEMBUATNYA KECEWA, hingga aku tak pernah berani untuk menolak keinginannya
Lama tahun pun berlalu, perasaanku tak pernah berubah, hingga ia memintaku untuk “nggak usah melakukan komunikasi yang tidak perlu” dan aku pun melakukan itu. Tidak pernah menelfon atau mengirim message untuknya. Yang aku ingat hanya pesan darinya, yaitu untuk saling percaya. Aku percaya dia mengerti perasaanku dan memahami janjinya bahwa akulah satu-satunya.
Hingga aku tau, aku orang bodoh. Menunggunya, tanpa memberi kabar ataupun berita. Yang siapa tahu kalau dia menepati janjinya. Penantianku terasa sia-sia saat sebuah berita mengiang di telingaku. Bahwa ia sedang menyukai gadis lain. Di mana balasan penantianku??
Aku kecewa, lebih tepatnya SANGAT KECEWA.
Satu tahun aku berusaha mencari diriku yang dulu. Yang semangat dengan semua mimpi dan harapanku. Tapi kekecewaan itu terus menyelimutiku, mengurung hari-hariku. Aku berubah menjadi orang yang lemah dan putus asa. Aku merasa tidak berguna. Mengenal dia selama 2 tahun membuatku sulit melepaskan kenyataan. Hingga aku menutup hati dan kesempatan. Aku sangat menyayanginya.
Hadir seseorang yang mencoba meraba hatiku. Aku yang masih terluka, Selalu menjauh dan pergi. AKU TAKUT MENCINTAI. Perlahan, aku mulai dapat tersenyum. Meraih mimpi-mimpi yang tadinya ku lepaskan. Mulai hadir perasaan untuk mengaguminya. Sampai aku tahu ada yang lain dari perhatiannya. AKU TERLALU TERLUKA. Aku abaikan semua perasaan. Sama sekali aku tidak ingin memberi ruang untuknya.
Sikapnya menyita hatiku sedikit demi sedikit. Saat aku merasakan sebuah penyesalan saat dia telah putus asa dengan perasaanku. Keputusan yang menyalahi dengan perasaan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku mulai khawatir jatuh lebih dalam, Karena aku tak ingin merasa perih untuk kedua kalinya. Tapi itu adalah hal yang harus aku bayar ketika aku telah memutuskan untuk mencintai.
Semua tentang dia tak mampu ku ungkapkan atau ku tuliskan. Cara ia untuk dapat membuatku simpati, Sangatlah berbeda. Semua hal tentang dia terlalu indah, semua tutur katanya membuatku tenang. Ia ukirkan sebuah sejarah indah dalam hidupku. Masih berharap ia ingin hapuskan masa laluku yang selalu membayangi. AKU TAHU, IA BISA. AKU TAHU, IA MAMPU. Mampu membuatku kembali dengan apa adanya diriku. Kembali dengan cinta yang tulus untuknya. Meski terkadang, aku masih berada dalam masa laluku.
Aku memang tak pernah bicara tentang perasaanku. Tapi aku ingin ia tahu bahwa aku benar-benar menyayanginya dan ini bukan lah sebuah pelampiasan cinta. Aku yakin, Tuhan akan memberiku kebahagian dan pada waktunya, ada sebuah bayaran tentang penantianku yang dulu.
CINTA MAMPU MEMBUATKU BENAR-BENAR BERUBAH



{April 17, 2010}   Laron Penantian

Saat cahaya matahari mulai merona. Aku telah bersiap-siap untuk pergi ke tempat kuliahku. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di kota ini. Betapa bangga dan bahagianya aku ketika mengetahui aku lulus tes ujian dan dapat masuk ke perguruan tinggi ini, karena tidak mudah untuk menjadi mahasiswi disini. Jam telah menunjukkan pukul setengah delapan lewat sepuluh menit.
Ku raih tas berwarna coklat yang tersangga di kursi meja rias. Dan tak lupa aku bercermin terlebih dahulu, kemudian ku rapikan jilbabku seraya tersenyum menatap diriku yang berada di cermin. Aku menyadari bahwa betapa sempurnanya Dzat yang telah menciptakanku.
Ku tarik tangkai pintu kamar, namun langkahku terhenti saat pandanganku tersita pada sebuah almenak yang tergantung pada dinding kamar dekat sakelar di kamarku. Aku mengerutkan kening, saat melihat bahwa tanggal pada hari esok ku lingkari dengan spidol warna merah. Aku berfikir sebentar, mengingat-ingat apa yang sebenarnya aku rencanakan untuk hari itu. Aku benar-benar tidak ingat tentang 9 Mei 2008.

* * *

“Terima kasih!” ucapku seraya meraih kantung plastik berwarna putih bercorak daun dari sworang pegawai toko yang bekerja sebagai penjaga kasir terlihat di papan nama yang ia kenakan di sebelah dada kanannya_Lusi Irawati_. Seraya berlalu, ku tebar senyuman manis kepadanya. Kemudian, aku keluar dari toko dan kembali bergabung dengan kerumunan orang di dalam bus. Semua macam bau ada di sana, dan bercampur menjadi satu. Namun aku sudah terbiasa dengan itu semua. Aku bisa saja pergi kuliah dengan taksi atau anggkutan lain, tapi aku tahu kerjaku yang hanya paruh waktu itu tidak akan cukup bila setiap harinya aku pergi dengan taksi. Jadi apa boleh buat, lagi pula hari ini aku tidak ingin tertinggal mata kuliahku sebab kemarin aku belum sempat presentasi dan belum menyerahkan tugas laporanku pada dosen pembimbingku.
Sambil berlari kecil menuju ruang kuliah, aku terus menggenggam kantung plastik yang di dalamnya terdapat sebuah bingkisan kecil yang telah di hias dengan pita berwarna biru muda. Buku-buku yang lumayan tebal-tebal pun ku dekap pula.
Aku lega saat tahu ternyata dosenku belum datang. Seraya menunggu, ku rapikan jilbabku yang sedikit berantakan.
“Lintang, kamu bawa apa?” Tanya Tari, salah satu temanku. Ya, mungkin dapat dibilang kami teman senasib sepenanggungan. Aku dan Tari sama-sama mengumpulkan uang untuk biaya kuliah disini. Tari adalah anak yang sederhana, cerdas dan baik hati. Ia sudah lama ditinggal oleh ayahnya sejak masih berada di dalam kandungan ibunya. Kini ibunya hanya seorang penjahit pakaina yang mempunyai penghasilan yang tidak begitu banyak setiap harinya. Maka dari itu, ia sama sekali tidak ingin membebani ibunya dengan biaya kuliahnya.
Bagaimana pun aku masih lebih beruntung dari pada Tari. Aku sangat mensyukuri itu semua. Ketika masuk ke perguruan tinggi ini, aku tinggal bersama paman. Ibu dan ayahku tinggal di Bandung. Ayah memang selalu mengirimkan uang untukku, untuk semua biaya kuliahku. Tapi aku merasa uang itu tidak cukup untuk keperluan tugas setiap harinya. Yang terkadang tugasku membutuhakan dua kali satu hari biaya angkutan umumku. Dan sekarang, aku dan Tari berteman cukup baik.
“Ini? Tanyaku “Ini hadiah buat Radit” sembari tesenyum lebar.
“Radit? Radit udah pulang dari Yogya?” Tanya Tari bersemangat. Wajahnya terlihat begitu penasaran dan ingin segera mengetahui jawaban dariku.
Aku mengganguk “selesai kuliah, aku akan jemput Radit di stasiun” jelasku. Sekonyong-konyong sang dosen datang, dengan perawakannya tegap dan berwibawa. Kumisnya tebal, dan semakin hari ke hari perutnya semakin buncit saja. ia mulai memberikan materi baru kepada kami dan mengingatkan tentang tugas laporan kepada semua mahasiswa. Sesekali ia membetulkan kacamatanya yang merosot ke hidung.

* * *

Jantungku berdegup begitu kencang. “hallo!”
“Lintang, gimana kabar kamu?” seru seseorang dari seberang “aku kangen banget sama kamu”
“Baik. Radit, ini bener kamu?” tanyaku gembira. Terdengar suaranya sama sekali tak berubah saat terakhir Radit menghubungiku. Aku tidak menyangka, saatnya pun tiba. Sudah hampir empat tahun ia pergi ke Yogya dan tinggal disana. Dan sekarang, setelah ku tunggu beberapa lama, Radit akhirnya pulang juga. Aku sangat bahagia.
“Aku seneng, bisa denger suara kamu lagi Lin” ucapnya. Aku dapat merasakan betapa gembiranya ia, mungkin bahkan meebihi aku. “Lin, kamu mau kan tunggu aku sebentar lagi? Aku akan pulang buat kamu” lanjutnya.
“Ya Dit, aku akan tunggu kamu. Sampai kamu datang di depan mataku.” Jawabku lembut. Tak sadar air mata keluar dari kedua bola mataku.
Radit adalah kekasihku. Aku dan dia sudah bertunangan sebelum dia meninggalkanku ke Yogya. Radit di pindah tugaskan untuk bekerja disana oleh atasannya. Radit berniat meminta izin kepada kedua orang tuanya agar mempercepat pernikahanku dengannya. “terima kasih, sampai ketemu Lin” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

* * *

Sampainya di stasiun
Hiruk pikuk sangat terasa. Terdengar teriakan orang-orang yang cukup memekakan telinga. Terlihat orang-orang banyak membawa tas yang besar dan berat. Dan juga menjadikannya repot. Jam tanganku menunjukkan pukul enam belas lewat tiga belas menit. Aku berharap kereta yang ku tunggu lebih cepat datang. Di daftar yang tertera, kereta itu akan datang pukul tujuh belas. Ku cari tempat yang kosong untuk duduk, karena sedari tadi kakiku sudah pegal dan tak kuat untuk berdiri lagi. Ku hela nafas panjang, saat aku menemukan tempat yang memang tak begitu besar untuk duduk. Tapi setidaknya, aku dpat mengistirahatkan kakiku yang benar-benar pegal.
Sesekali ku pandangi orang-orang yang berada di sekitar ku. Dan sesekali ku tengok sebuah bingkisan yang akan ku berikan pada Radit saat ia datang. Sebuah pajangan yang tidak terlalu besar, dan memang tak begitu mahal. Namun semoga saja Radit menyukai pemberianku ini. Sebuah pajangan berbentuk bola bening yang dibawahnya terdapat benda lagi untuk menopang agar dapat tersangga. Di dalamnya terdapat lafaz yang bertuliskan nama Tuhan ‘Allah’ dengan tulisan arab. Di dalamnya ada butiran-butiran yang persis dengan salju. Apabila di gerakkan, butiran-butiran itu akan jatuh dan tampak menghujani lafaz itu. Dan yang membuatku sangat tertarik memilih benda itu karena, di belakang benda untuk menopang itu terdapat sebuah tombol. Dan apabila tombol itu di tekan, lafaz itu akan memberikan cahaya yang terang berwarna hijau. Dan menurutku itu sangat indah. Dan semoga dapat menenangkan hatinya apabila Radit sedang merasa gusar atau gelisah. Dan semoga dapat menjadi penerang hatinya, di saat kesendiriannya bahkan kepedihannya.
* * *

Hingga pukul tujuh belas lewat lima menit, aku menunggu Radit yang tak kunjung datang. Tak ku hiraukan keringat dingin mulai membasahi hampir seluruh tubuhku. Ku tarik nafas panjang, menghela nafas berulang kali, seraya mengusir kegelisahan yang menguasai hati. Ku berusaha mengubur semua pikiran negatifku. Namun tak bisa, semuanya memenuhi benakku. Aku berniat mengumpulkan serpihan-serpihan kepercayaanku yang mulai hilang dan berusaha untuk tidak putus asa. Semoga saja ffikiran negatifku itu tak akan terjadi.
Tak lama terdengar gegap gempita suara adzan magrib dari beberapa surau di sekitar stasiun, mengiringi hari yang mulai gelap. Namun kereta itu pun belum datang juga. “Ya Allah, lindungilah selalu Radit, dimana pun sekarang ia berada.” Batinku. Kemudian ku putuskan untuk pergi ke surau yang memang tak terlalu jauh dari tempatku berada.
Ku ambil air wudhu, ku kenakan mukena lalu ku laksanakan shalat magrib. Seraya berlinang air mata, ku panjatkan do’a untuk Radit. Agar tidak terjadi apa-apa dengannya.
“Ya Allah, Ya Rabbi. Ku tahu semua yang bernyawa pasti akan mati. Namun hanya Engkau yang berkuasa atas semua itu.” Rintihku “jangan Kau renggut nyawanya terlebih dahulu Ya Allah. Panjangkan usianya, agar terus dapat beribadah hanya kepada-Mu” air mataku tak terhenti. Berkali-kali ku seka air mata, namun berulang kali pula air mataku mengalir.
“Hilangkanlah kegelisahan ini Ya Allah, tenangkanlah hati hamba-Mu ini. Dan lindungilah ia dari segala bahaya” ku kembali menyeka air mata yang ternyata sudah membasahi mukenaku.
Saat ku kembali akan menunggu Radit, aku tersentak. Sebuah kereta yang ku tunggu sedari tadi sepertinya sudah datang. Bahkan hampir seluruh penumpang telah keluar dari dalam kereta. Kini mataku mulai bersiskamling ria, mengamati semua orang. Dan mencari sosok Radit. Namun ia tidak ada, tak terlihat dimana pun. Ku usir kegelisahanku yang mulai menyelimutiku kembali. “mana Radit?” gumamku “dia pasti ada, Radit pasti datang” mencoba menghibur diriku sendiri.
Sampai akhirnya kereta itu pun berlalu dari hadapanku, dan Radit sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Apa Radit telah pulang? Apa Radit terlalu lama menungguku? Ya, dia hanya lelah menungguku yang terlalu lama berada di surau. Ku yakinkan kembali diriku sendiri. Namun semua pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi semua fikiranku. Kini aku mulai kecewa, takut dan sangat sedih. Mataku mulai berkaca-kaca, tak tahan menahan air mata. Dan akhirnya ku buat lagi air terjun kecil dari mataku. Apakah Radit tidak jadi pulang? Apakah dia berbohong kepadaku? Kekecewaan semakin menggerayangiku. Atau jangan-jangan ………… ku tepis kembali fikiran negatif itu. Aku hanya dapat mengoptimiskan hati, dan meyakinkan diri.
Aku berjalan menemui bagian informasi. Mungkin saja kereta yang datang tadi bukanlah kereta dari yogya. “permisi”
“Ya, ada yang bisa saya Bantu?” Tanya seorang wanita dengan seragam biru tuanya.
“Maaf, saya mau tanya. Kereta yang barusan datang itu dari Yogya bukan?” tanyaku sedikit ragu. Ada perasaan yang menginginkan bahwa itu bukan kereta dari Yogya.
“Ohh, iya benar. Maaf, datangnya agak telat. Karena tadi sedikit ada gangguan.” Jawabnya menerangkan.
Aku kecewa dengan jawabannya “apa jam berikutnya ada kereta dari Yogya juga ya mbak?” tanyaku lagi
“Ohh sebentar, saya cek dulu” jawabnya memindahkan pandangan ke layar komputer. “maaf mbak, tidak ada. Hanya itu saja. mungkin besok pagi baru datang”
“Terima kasih ya” ucapku seraya menghela nafas sambil berlalu
“Ya, sama-sama”

* * *
Aku mulai tak bersemangat lagi dan rasanya hati ini sangat terluka. Mataku yang sedari tadi mengeluarkan air mata mulai terasa sembab. Semua dugaan buruk itu terus saja berbisik di telinga. Dan akhirnya, ku putuskan untuk menunggu Radit hingga pukul sembilan malam saja. Karena ku tahu , pasti tante akan sangat khawatir apabila aku belum pulang hingga lewat pukul sebelas.
Ku pandangi awan terlihat sangat gelap. Bulan tak bersinar malam ini, gemuruh pun mulai terdngar. Sepintas lalu ku pandangi lampu di sekitar stasiun yang tidak jauh dari tempatku duduk saat ini. Cahaya lampu itu sangat indah, karena di sekelilingnya di penuhi oleh laron-laron. Itulah yang membuat aku ingat akan rencana hari ini. Tanpa laron-laron itu, maka aku tak akan berada disini. Dan mengingatkan aku pula pada suatu kejadian yang mungkin tak akan ku lupakan. Di saat aku mengatarkan Radit ke stasiun empat tahun yang lalu. Saat Radit pergi meninggalkanku ke Yogyakarta.
Saat itu, Radit mengucapkan salam perpisahannya untukku.
“Lin, jadilah seperti laron. Selalu bersedia menyelubungi cahaya lampu yang disukainya. Meski telah lelah dan meski sampai sayapnya jatuh dan rapuh. Aku janji akan kembali buat kamu, maka setialah menungguku.” Itulah yang Radit ucapkan, kami tepat berada dibawah lampu stasiun yang sedang diselubungi oleh laron-laron yang sangat indah.
“Lintang, kamu akan tetap menjadi bintang yang selalu temaniku dalam sepinya malam disana.” Tuturnya halus dan dengan lambaian serta senyuman yang hangat. Ia pun pergi dan bersatu dengan kerumunan orang didalam kereta. Dan maka dari itu, saat malam aku teringat akan rencana untuk hari ini. Laron malam ini adalah laron penantian untuk Radit.
Angin yang dingin menusuk sampai ke tulang rusukku. Jilbabku tertiup olehnya. Ku pandangi kembali awan yang gelap, kilatan cahaya terlihat sangat jelas. Gemuruh pun salingberlomba-lomba meneriakkan keberadaannya. Kemudian satu tetes hujan mulai turun, dua, lalu sampai pada akhirnya hujan dengan disertai gemuruh yang lumayan besar menemaniku yang menangis sendiri dalam malam yang gelap dan menunggu Radit yang tak kunjung datang,
Sampai pukul sepuluh malam, akhirnya hujan mulai reda. Namun, stasiun itu tak mengurangi banyak orang. Kuputusakan beranjak dan pulang. Berat rasanya. Namun, aku akan menghubunginya setelah sampai di rumah. Janjiku pada hati. Kekecewaan ini pun tak kunjung menghilang, air mataku pun tak kunjung henti membasahi pipi.

* * *

Sampainya di rumah
“Nak, kamu dari mana?” tanya tante begitu khawatir.
“Aku capek tan, aku mau istirahat saja.” jawabku, lalu dengan kaki yang telah lelah kunaiki tangga ke kamarku.
Ku letakkan plastik yang berisikan hadiah itu. Lalu menghempaskan tubuhku yang serasa tak berdaya. Mengapa Radit tak ada? Batinku. Aku kembali mengusap air mataku yang jatuh, dan memutuskan untuk menghubungi Radit. Kuraih tas dan mengambil ponselku didalamnya. Ku tekan nomor ponsel Radit yang sudah ku hafal sebelumnya, lalu ku dekatkan ketelinga.
Tutt…tutt…tutt… terdengar nada sambungnya namun tak ada yang menjawab. “angkat, ayo angkat Radit!” rintihku dan mulai menangis lagi. Aku hanya berharap mendengar suara Radit dan mengucapkan ‘aku baik-baik saja’ hanya itu yang ingin ku dengar. Dan mungkin aku tak akan segelisah ini. Kemudian kutekan tombol untuk memutuskan hubungan dengan beribu rasa yang mengganjal dan menyesakkan dada, dan akhirnya aku menangis tersedu-sedu hingga segukkan.
“Lin, kamu udah tidur?” tanya tante dari balik pintu kamar seraya mengetuknya berulang-ulang. Tante mengetuknya sekali lagi lebih keras. “Lin,” ulang tante “ya sudah, tante bilang sama bunda Tia kamu udah tidur ya?” akhirnya aku meloncat dari ranjang dan segera membuka pintu kamar.
“Bunda Tia telfon bukan tan?” tanyaku tergesa-gesa.
“Ya” jawab tante singkat. Aku segera berlari menuruni tangga dan menimbulkan suara yang berderap-derap. Kemudian meraih gagang telpon dengan segera. Jantungku mulai berdegup kencang, berharap bunda Tia memberikan kabar baik tentang Radit. Terlihat tante menatapku heran penuh dengan tanya.
“Halo, bunda?”
“Lintang,” terdengar suaranya seperti sedang menangis “Radit, Lin.. Radit…!”
“Radit kenapa Bun?” tanyaku penasaran. Aku berharap tak ada berita tentang Radit seperti apa yang ku pikirkan.
“Radit kecelakaan..”
Aku tak percaya dengan ucapan bunda Tia, namun dadaku tiba-tiba merasa sesak, tubuhku pun tak dapat duduk dengan tegap. Mataku berkunang-kunang dan mulai mengeluarkan air mata. Gagang telpon itu pun terlepas dari genggaman tanganku.
Kucoba untuk berdiri dan memaksakan tubuhku yang sebenarnya telah lemas, untuk berjalan ke luar dan pergi ke rumah Radit. Aku tak hentinya menangis, tak percaya dengan apa yang terjadi.

* * *

Tadinya ku kira ini hanya lelucon yang sengaja dibuat oleh Radit. Tapi ini benar-benar kenyataan. Semalaman aku tidak tidur hanya diam dan menangis tersedu-sedu, menunggu jenazah Radit datang. Dengan jilbab yang berantakan, dan baju yang tak sempat ku ganti dan sedikit basah karena hujan samalam. Aku tetap tak ingin pergi, aku ingin menunggu sampai dapat melihat wajah Radit untuk yang terakhir kalinya.
Pagi-pagi di udara yang cerah, gema adzan di kumandangkan pada telinga kanan Radit dan membuatku tidak dapat berhenti menangis. Aku sangat-sangat terpukul, mungkin sama seperti keluarganya saat ini. Radit berjanji akan menikahiku sepulang dari Yogyakatra. Tapi mengapa Allah tak mengizinkannya! Dan mengapa harus merenggut nyawanya? Tapi aku tak ingin menyalahkan ketentuan dariNya. Aku yakin ini adalah salah satu cobaan yang Allah berikan untukku.
Yang terakhir, sang ustadz membacakan doa untuk Radit. Tak lama semua orang meninggalkan tenpat peristirahatan terakhir Radit. Kutaburkan bunga di atas tanah makam Radit, dan aku masih tak percaya.
“Kenapa ini begitu cepat?” rintihku. Dengan segala kekecewaan ku kembali menghapus air mataku. Kuambil saputangan dari dalam saku. Namun ketika aku membuka telapak tanganku, terdapat seekor laron yang telah mati. Aku menitikan air mata. Dan sangat pedih rasanya. ”Radit, laron ini selalu setia menemani aku yang selalu menunggu kamu pulang. Dan ketika kamu harus menghadap yang kuasa, laron ini pun setia kembali pulang bersama kamu” ucapku menahan kepedihan yang mendalam.
Maka dari itu, kesetiaan sangatlah menjadi suatu sikap yang harus ada pada diri kita. Bukan hanya setia pada makhluk sesame saja, namun setia kepada yang kuasa dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi LaranganNya. Juga untuk tidak menyekutukanNya

S E L E S A I



{Januari 8, 2010}   ‘Kokoro Wa’

Hari ini, saat ini, detik ini…
Kacau banget…
Aku gak bisa marah, atau menuntut sesuatu yang nyatanya bukanlah hakku..
Lagi-lagi aku menangisi sesuatu yang tak nyata..
Yang kapanpun dapat hilang..

Aku ingin sekali sekejap saja melihatmu…
Meski jauh…
Tak seperti saat ini..
Diam..
Tak bergerak, dan merasa kuat seperti batu karang..
HATIKU lemah…



{November 7, 2009}  

mungkin memang kedengaran munafik untuk diucapkan. tapi ini fakta yang benar-benar terjadi di sekitar kita. terkadang banyak orang yang melakukan zina karena diawali dengan ‘pacaran’
tau donk sama kata-kata ini : “dari mata turun ke hati”. itu sering terjadi sama kita semua (akuin aja deh). tapi tenang aja kok guys, gak akan terjadi apa-apa kalau kita bisa menyikapi perasaan kita itu. jangan sampai terjadi ‘turun kemana-mana’ setelah punya perasaan sama lawan jenis.

saat kita merasakan perasaan yang manusiawi itu, jangan buat diri kamu tenggelam dalam sebuah hubungan yang bukan sebuah pernikahan.



{November 7, 2009}  

apa yang ada dalam hati, bukan untuk di umbar atau di ekspresikan dalam suatu perbuatan yang kadang tidak kita fikirkan matang-matang.



{Oktober 27, 2009}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



dan lain-lain
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.