Aku mencintai seseorang. Ia baik, pehatian dan sangat agamis, namun ia terlalu egois dan sangat Possesif. Awalnya aku hanya menghargai perasaannya padaku, hingga aku tak bisa lepas dengan semua ikatan cintanya. Mungkin terlihat berlebihan bila kita bicara tentang cinta. Tapi saat itu aku benar-benar merasakan tak ingin kehilangan. Aku melakukan apa saja yang bisa buat ia simpati padaku. Aku melakukan apa yang ia minta, yang ia inginkan. Yang pasti, aku sangat tidak ingin membuatnya kecewa.
Saat itu aku benar-benar telah di butakan dengan cinta. Kata-katanya yang manis dan penuh kepastian membuatku lemah. Membuat aku berubah. Ia merubahku menjadi seseorang yang tidak buruk. Tapi, aku melakukan karena ia, hanya untuk dia. Dan hingga kini aku sadar itu bukan perubahan yang baik. aku sama seperti orang yang munafik.
Ia benar-benar terbuka dengan segala hal padaku, semua yang ia rasakan selalu ia ceritakan. Ia selalu berjanji bahwa akulah satu-satunya, hanya untuknya. 1 point lagi yang membuatku lemah. Ia selalu memintaku untuk tidak dekat dengan laki-laki lain_ia mengekangku_ dan itu pun aku lakukan. Hanya untuk dia. AKU TIDAK INGIN MEMBUATNYA KECEWA, hingga aku tak pernah berani untuk menolak keinginannya
Lama tahun pun berlalu, perasaanku tak pernah berubah, hingga ia memintaku untuk “nggak usah melakukan komunikasi yang tidak perlu” dan aku pun melakukan itu. Tidak pernah menelfon atau mengirim message untuknya. Yang aku ingat hanya pesan darinya, yaitu untuk saling percaya. Aku percaya dia mengerti perasaanku dan memahami janjinya bahwa akulah satu-satunya.
Hingga aku tau, aku orang bodoh. Menunggunya, tanpa memberi kabar ataupun berita. Yang siapa tahu kalau dia menepati janjinya. Penantianku terasa sia-sia saat sebuah berita mengiang di telingaku. Bahwa ia sedang menyukai gadis lain. Di mana balasan penantianku??
Aku kecewa, lebih tepatnya SANGAT KECEWA.
Satu tahun aku berusaha mencari diriku yang dulu. Yang semangat dengan semua mimpi dan harapanku. Tapi kekecewaan itu terus menyelimutiku, mengurung hari-hariku. Aku berubah menjadi orang yang lemah dan putus asa. Aku merasa tidak berguna. Mengenal dia selama 2 tahun membuatku sulit melepaskan kenyataan. Hingga aku menutup hati dan kesempatan. Aku sangat menyayanginya.
Hadir seseorang yang mencoba meraba hatiku. Aku yang masih terluka, Selalu menjauh dan pergi. AKU TAKUT MENCINTAI. Perlahan, aku mulai dapat tersenyum. Meraih mimpi-mimpi yang tadinya ku lepaskan. Mulai hadir perasaan untuk mengaguminya. Sampai aku tahu ada yang lain dari perhatiannya. AKU TERLALU TERLUKA. Aku abaikan semua perasaan. Sama sekali aku tidak ingin memberi ruang untuknya.
Sikapnya menyita hatiku sedikit demi sedikit. Saat aku merasakan sebuah penyesalan saat dia telah putus asa dengan perasaanku. Keputusan yang menyalahi dengan perasaan yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku mulai khawatir jatuh lebih dalam, Karena aku tak ingin merasa perih untuk kedua kalinya. Tapi itu adalah hal yang harus aku bayar ketika aku telah memutuskan untuk mencintai.
Semua tentang dia tak mampu ku ungkapkan atau ku tuliskan. Cara ia untuk dapat membuatku simpati, Sangatlah berbeda. Semua hal tentang dia terlalu indah, semua tutur katanya membuatku tenang. Ia ukirkan sebuah sejarah indah dalam hidupku. Masih berharap ia ingin hapuskan masa laluku yang selalu membayangi. AKU TAHU, IA BISA. AKU TAHU, IA MAMPU. Mampu membuatku kembali dengan apa adanya diriku. Kembali dengan cinta yang tulus untuknya. Meski terkadang, aku masih berada dalam masa laluku.
Aku memang tak pernah bicara tentang perasaanku. Tapi aku ingin ia tahu bahwa aku benar-benar menyayanginya dan ini bukan lah sebuah pelampiasan cinta. Aku yakin, Tuhan akan memberiku kebahagian dan pada waktunya, ada sebuah bayaran tentang penantianku yang dulu.
CINTA MAMPU MEMBUATKU BENAR-BENAR BERUBAH